Review The Greatest Showman
Sebuah sajian yang menyenangkan, tapi susah untuk dilupakan
Gimana ya, diawal kita udah disajiin opening beserta soundtrack-nya yang nendang, backstory tokoh utama yang ditampilin lewat adegan musikal tapi tetep ngena, dan plot yang konsisten
Gue bener-bener apresiasi Hugh Jackman yang bener-bener keluar dari zona nyaman disini. Biasanya di X-Men series dia ditampilin jadi karakter kaku yang ngomong seperlunya aja, nah disini berubah total jadi pribadi friendly yang banyak tersenyum
Salah satu momen wholesome disini adalah ketika para anggota sirkus yang berani speak-up pas semua orang ngehina mereka, dan itu berhasil ngubah stigma gue soal sirkus yang selalu gue agggap cuma show aneh berisi orang-orang yang sama anehnya, animal abuser, dan praktek eksploitasi manusia ilegal jadi sebuah show yang menjadi wadah bagi para orang berkekurangan menjadi percaya diri dan 'break free'
Momen plus lainnya adalah ; disini Zendaya cantik banget anjir, hehe. Gue suka chemistry-nya sama Zac Effon, dan cara mereka ngungkapin cinta terlarang antar-ras dalam cara sweet yang dramatis tapi gak menye-menye
Belum lagi visual steampunk ala 1800an yang ciamik dan memanjakan mata
Tapi tentu pasti ada kekurangannya. Seperti film historical-based, film ini tentu punya banyak kekeliruan historis. Mulai dari Barnum disini yang ditampilkan jauh lebih muda (setau Gue, dia baru buka sirkus pas umur ke-60 jadi tentu yang udah pantengin karya dia jauh sebelum film ini dibuat bakal aneh karena usianya jomplang banget, kasus Barnum-Jenny yang sebenernya di real-life itu sebatas hubungan profesional, sampe alasan kebakaran tempat sirkus Barnum yang sampe sekarang belum terpecahkan.
Dan tentu CGI-nya yang lumayan kasar. Rada aneh pas awal-awal yang si Tom naik kuda karena kudanya geraknya aneh bet, eh ternyata setelah baca-baca itu CGI
Overall, ini tayangan wholesome yang gak cuma cocok untuk melepas stress, tapi juga menyimpan moral value yang dalam
My rate : 8.5 of 10

Komentar
Posting Komentar